Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (II)

WOL


Kegagalan adalah hal lumrah dalam pengalamanku menggeluti pekerjaan. Kerap sekali aku di-PHK setelah satu tahun, enam bulan, bahkan 3 minggu masa bekerja. Semua itu adalah kisah-kisah mengharukan setiap kali mengenangnya di kala senggang sembari minum teh manis. Huehehehe. Aku kadang bingung, kenapa ada manusia seperti diriku yang tak terperikan kebodohannya dalam menjalankan peran di tempat bekerja?





Ada baiknya juga menuliskan pengalaman masa silam ini untuk bercermin. Terutama sekali, menghitung berkat. Betapa Tuhan itu baik dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman mumpuni untuk diriku. Membicarakan keberanian dan keterampilan menulis, aku langsung teringat tempat bekerja di salah satu media online di kota Medan. Bermula dari info lowongan kerja ‘Penerjemah Berita’ di kampus, aku beranikan diri melamar dan bersyukur karena diterima.

Media tersebut kerap disingkat WOL. Namun pengalaman yang diberikan tidak sesingkat itu. Di sini lah, aku bisa belajar menulis terjemahan berita, wawancara, menulis berita hingga mengenal manajemen dapur redaksi. Di samping itu, deadline, teriakan, bentakan dan cercaan adalah bumbu-bumbu di dunia pers ini. Satu yang sulit terlupa adalah pintu ruang Pemred (mendiang AET) tersemat stiker bertuliskan: “Peraturan No. 1: Bos tidak pernah salah. Peraturan No. 2: Kalau Bos salah, kembali ke peraturan no. 1” Mungkin gara-gara ini juga Pemred memiliki aura horor di setiap jam kantor redaksi : pukul 09.00 WIB - 22.00 WIB. Jarang sekali setiap karyawan yang dipanggil kembali dengan senyum lebar. Seingatku pernah sekali, setelah jebol proposal iklan besar, pernah diberi dua lembar senyum presiden. “Rezeki!,” jawabnya atas tanyaku kenapa aku dapat uang juga.


Meskipun demikian, patut lah aku bersyukur mendapat didikan mendiang. Hampir semua yang digemblengnya dengan tangan dingin, menjadi paham (setidaknya) kaidah menulis yang baik dan ringkas. Sehingga wajar saja setiap kali teman sekantor yang mengundurkan diri, kami sebut telah lulus dan layak disebut alumni WOL. Aku sendiri menjadi alumni medio 2011.


Sebelum keluar dari WOL, aku pernah berkesempatan magang di harian yang dibanjiri iklan masif setiap harinya itu. Sejatinya aku bukan reporter lapangan yang ligat mencari-cari berita. Magang sebulan, aku sudah demam sampai lima kali. Aku sampaikan pada Wakil Pemred, sudah nasibku tak bisa jadi jurnalis handal sebagaimana yang diharapkan. Beberapa teman semagang ada yang kecewa. Mungkin mereka menaruh harapan besar padaku. Aku mohon maaf ya, Sahabats. :)

“Peraturan No. 1: Bos tidak pernah salah. Peraturan No. 2: Kalau Bos salah, kembali ke peraturan no. 1”

Setelah sebulan menjadi pengangguran gelap, persediaan tabunganku semakin menipis. Adik bungsuku mengusulkan untuk gabung dengannya di satu sekolah kejuruan swasta (SMK Kesehatan Wirahusada Medan). Cukup lama aku bekerja di sekolah ini, sekira dua tahun. Tidak hanya sebagai guru, namun juga dipercaya sebagai wakil ketua Tim Promosi (mencari murid-murid baru). Dari peran tersebut, aku jadi tahu tempat-tempat jauh yang selama ini hanya terdengar dari cerita-cerita teman.

Keterangan foto: Annual meeting (rapat tahunan) seluruh staf WOL. Berfoto bersama 'mahasiswa' dan mendiang pemimpin WOL.
Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (II) Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (II) Reviewed by Ananta Bangun on 1:47 AM Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.