Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan

MENGENAL PENGETAHUAN

Mari kita membuat arti tentang keajaiban. Bagiku itu adalah berbagi pengetahuan. Mengapa? Karena sejak kanak-kanak, mamak (ibu) pernah cerita bahwa pengetahuan adalah harta yang tak ternilai harganya, lebih berdaya tahan dibanding logam apapun di bumi ini. “Kemanapun kau dibuang, pengetahuan itu tetap melekat di otakmu. Tak ada yang bisa menghancurkannya kecuali tubuhmu sendiri benar-benar hancur. Sementara harta dunia ini bisa dicuri dan dihancurkan.” Demikian mamak berpetuah.


Istri dan Mamak terkasih

Secara tidak langsung mamak telah memberiku pengetahuan. Dan dari mendiang bapak, pria berjanggut tebal itu hanya bisa mengelusnya pasrah setiap kali putra sulungnya mengobral abrik lemari arsip untuk mencari buku bacaan yang menarik hati seorang bocah ingusan. Favoritku adalah kliping filologi (pengetahuan bahasa mendongeng). Dari alkisah ‘Danau Toba’, 'terjadinya gunung Sibayak’, sampai yang asing bagiku 'awal mula Desa Bin Tujuh’.

Memasuki awal tahun 2000-an, istilah 'komputer’ benar-benar menyihirku. Monitor, keyboard, CPU, RAM, Hard disk, DOS. Semua kosa kata baru itu bagai mantra di kepala alih-alih pengetahuan yang rumit. Karena satu dan lain hal, perkenalan dengan bang Amazone Kaban adalah anugerah bagiku. Dan mungkin musibah baginya. Tak terbayangkan bagaimana bang Zone dapat menyungging senyum setiap kali aku datang tanpa memandang ‘hari merah’ dan 'hari hitam.’ Benar. Kunjunganku hanya untuk belajar komputer. Walaupun tak belajar, mendengar lagu pengantar OS Windows 98 saja bagai mendengar Josh Groban mendendangkan lagu.
foto bersama bang Amazone yang pingsan mendapati tagihan listriknya
Dari bang Zone yang murah hati, aku beroleh pengetahuan yang sungguh ku syukuri: Instalasi dan perbaikan Windows, serta MS-Word. Word!? Benar. Jangan meremehkan keahlian di aplikasi ini. Hingga kini kutemui banyak tamatan kuliah sekalipun belum mumpuni mengoperasikan MS- Word. Bahkan, ada satu kejadian mengharukan, ketika aku meminta seorang mahasiswi komputer magang terisak-isak karena tak bisa membuat tabel di Word. Saat itu aku minta dokumen tersebut untuk daftar hadir rapat guru dan kepala sekolah.

Persahabatan dan belajar bersama dengan bang Zone berlanjut tatkala kami tandem dalam usaha percetakan foto digital (milik seorang teman kampus: Mario Hutagalung). Sungguh lucu pengalaman kami di geliat bisnis ini, mengingat kami sama-sama pemula dalam menggunakan Adobe Photoshop, aplikasi untuk menyunting foto-foto di usaha cetak tersebut. Setelah menyelesaikan kuliah yang amburadul, ada rasa jenuh menyesap hati akan pekerjaan di percetakan. Meskipun bekerja di dunia cetak ini juga menyenangkan karena sering bersua pelanggan yang cantik-cantik. Hanya saja tak satu pun bersedia ditembak menjadi ‘pacar.’

“Kemanapun kau dibuang, pengetahuan itu tetap melekat di otakmu. Tak ada yang bisa menghancurkannya kecuali tubuhmu sendiri benar-benar hancur. Sementara harta dunia ini bisa dicuri dan dihancurkan.”

Karena itu, aku mengutarakan pada bang Zone dan Mario keinginan untuk pindah ‘klub’ (seperti sepakbola saja) atawa kerja. Mario merelakan keputusanku dengan berat hati, padahal tanpa pesangon. Sementara bang Zone (hingga kini), masih membara semangatnya belajar menjalankan bisnis tersebut. Bahkan hingga Mario gulung tikar, bang Zone dengan yakin mengambil alih seluruh asetnya berupa: sepasang kursi dan meja, printer, serta beberapa lembar kertas photo.
Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan Reviewed by Ananta Bangun on 9:30 PM Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.