Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (III)

Trainer

Semasa masih bekerja di sekolah kejuruan tersebut, seorang teman jurnalis Agoez Perdana, menghubungi: apakah tertarik turut serta dengannya ke Rantau Prapat?
“Ngapain ke situ,” tanyaku.
“Mengajar guru-guru di sana membuat presentasi dan Internet.”
“Lha. Memangnya aku sudah mahir Power Point?”
“Ck. Tenang saja, yang penting kam bisa ajarin dari tahap dasar. Nanti aku bawain sesi Internet nya,” timpal Agoez.



Wah, asyik juga. Aku menyetujui undangan Agoez. Setelah mengikuti interview dengan lembaga penyelenggara Djalaluddin Pane Foundation (DPF), jadilah ini pengalaman pertama menumpang kereta. Tertatih-tatih berjalan di kala kereta melaju, selalu membuatku teringat pada ucapan pak Berton Turnip: “Lebih sulit belajar berjalan daripada belajar statistika.”

Menjadi Trainer sungguh membuka ‘mata’ku tentang belajar dan mengajar. Praktis, inspiratif dan menyenangkan seperti rangsangan iman yang terus hadir di setiap pelatihan yang kuhadiri (maupun saat menjadi panitia penyelenggara). Tantangan baru ini lalu seperti gayung bersambut dengan agenda program DPF yang (saat itu) dipusatkan di kabupaten Labuhanbatu dan Labuhanbatu Selatan.

Pengalaman yang unik adalah saat menjadi trainer di Pondok Pesantren Modren Ar-Rasyid (Pinang Awan, Labuhanbatu Selatan). Selain menjalin persahabatan dengan para guru di pesantren tersebut, perkenalan dan persahabatan dengan pimpinannya Ustadz Fikri. Satu kata mutiara, dari sosok yang akrab disapa Usfik, selalu kuingat adalah: “Pulang Malu Kalau Nggak Bawa Ilmu.” Sungguh pas. Bagaikan mantra ajaib.

Berkat DPF, aku beroleh kesempatan menjadi peserta Training of Trainers (ToT) yang difasilitasi oleh ibu Handa dari lembaga Dazya Ina Mandiri (DIM). Ibu Handa sendiri telah lama malang-melintang dalam di tingkat Internasional untuk memberikan teknik fasilitasi. Dari beliau, aku belajar banyak tentang kiat manajemen fasilitasi pelatihan yang baik.



Ritme kegiatan menggali pengetahuan tentang fasilitasi pelatihan mulai bentrok dengan tugas mengajar di sekolah. Di sisi lain, aku merasakan memang tidak cocok menjadi seorang guru yang baik. Jeans, kaus oblong, pelatihan, menulis seperti desahan ‘kekasih’ yang selalu memanggilku. Tentu saja nyaris semua fitur-fitur tersebut menjauhkanku dari peran mengajar di sekolah. Akupun memutuskan (lagi-lagi) untuk mengundurkan diri.

Keterangan foto:
1. Berfoto bersama tim pelatihan di Labuhanbatu Selatan, persis di dekat plakat berisi petuah legendaris Ustadz Fikri.
2. Kala pertama bersanding menjadi trainer bareng Agoez Perdana di Labuhanbatu
Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (III) Keajaiban Itu Bernama Pengetahuan (III) Reviewed by Ananta Bangun on 4:52 PM Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.